Jl. Dr. Gumbreg No.1 Purwokerto
  rsmargono@jatengprov.go.id
    (0281)632708

Pernah Dibayar Dua Tandan Pisang

Posted on 21 Oktober 2014 19:28:40


Pengabdian seorang dokter memang beragam dan unik. Begitu juga untuk dokter Rumah Sakit Umum Daerah Margono Soekarjo dr Arundito Widikusomo Sp Onk Rad. Dokter spesialis onkologi radiasi yaitu dokter yang menangani pasien-pasien kanker atau tumor yang akan menjalani radioterapi.

Inilah sebagian kisahnya sebelum bertugas di RSMS. Pernah dibayar dengan menggunakan dua tandan pisang saat mengabdi di Nusa Tenggara Timur.

Pisang adat, begitulah nama dari pisang tersebut. Hampir mirip dengan pisang hutan namun dengan rasa bukan seperti pisang

pada umumnya. Selain rasa, buah yang satu ini yakni dimakan sa at mentah. Namun, tidak semerta-merta sa at mentah dimakan. Namun, pisang itu harus dimasak terlebih dahulu. Bahkan semakin aneh karena dr Arundito mengkonsumsi pisang itu dengan dicampur rumput laut sebagai pelengkap makanan tersebut. Tidak jarang juga ditambahkan sambal ikan. ''Jadi rasanya amis-amis kaya gitu. Lha rumput laut ditambah pisang olahan," katanya.

Meskipun sedikit kecewa dengan pisang tersebut, namun salah satu sisi dr Arundito bersyukur karena dalam waktu satu minggu dirinya tidak bisa menemukan beras. Pisang itulah yang akhirnya men­jadi penyelamat sa at tidak ada makanan lain. "Untung saja ada pisang itu,bagaimana kalau tidak seminggu lebih bisa tidak makan saya," jelasnya.

Kelangkaan makanan di tempatnya bertugas, di daerah pedalaman Nusa Tenggara Timur dikarenakan transportasi tersebut memang sulit. Memang ada kapal yang datang, namun menu rut dia kapal tersebut tidak datang setiap hari. Hal tersebut membuat persediaan makanan didaerah tersebut sangat susah. Tidak hanya beras, namurl beberapa bahan makanan yang lain juga dikatakan sangat langka. "Misal ada buah, pepaya saja pasti harganya sangat mahal," ujarnya.

Memang, lanjut dia tanah di sana masih sangat luas. Namun sedikit gersang hingga tidak bisa ditanami tanaman. "Kebanyakan ilalang, jadi kesempatan tanaman lain untuk tumbuh akan susah," tambahnya.

Pisang adat, lanjut dia merupakan makanan khas yang bisa dikatakan hanya orang tertentu saja dan saat-saat tertentu saja untuk mengkonsumsi. "Itu makanan mewah, biasanya dimakan saat pesta saja," tuturnya.

Dengan keadaan tersebut, gizi buruk di daerah tersebut masih sering dijumpai. Namun, lagi-Iagi pola pikir yang menjadikan mereka susah untuk dirubah. Tidak memperhatikan nilai gizi itulah yang terjadi. "Pola pikir mereka sudah terpatok seperti itu, jadi susah untuk dirubah. Untuk sekedar mendengarkan sosialisasi mengenai gizi merekajuga susah," ujarnya.

Padahal, lanjut dia disana masih banyak makanan yang mempunyai nilai gizi yang banyak. Salah satunya ikan yang digunakan untuk membuat sarden, menu rut dia keberadaannya

masih sangat melim­pah. Namun, masya­rakat disana tidak memanfaatkan hal tersebut. Bahkan, diceritakan dia saat

dia mengkonsumsi makanan tersebut diingatkan karena disana ikan tersebut merupakan sampah. "Iya saat, saya makan itu malah itu dibilang sampah. Padahal, ikan tersebut di Jawa menjadi makanan bergizi dengan nilai jual yang bagus," terangnya.

Selain kesulitan dalam penanaman nilai gizi, kesulitan yang dihadapinya yakni sa at pemberian obat. Menurut dia, banyak masyarakat yang rrlengkonsumsi antibiotik secara berlebihan. Hal tersebut lagi-Iagi susah untuk diluruskan. Kebanyakan mereka mengkonsumsi antibiotik tiga hingga empat kali per hari. "Konsumsi antibiotik dalam jangka waktu lama akan berdampak buruk terhadap kesehatan," tegasnya.

Namun, semua hal yang didapatkan disana menjadia pelajaran bagi dirinya. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat.

 

 


Pencarian Berita

Arsip Berita